Tampilkan postingan dengan label al kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label al kisah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Oktober 2015

Inilah 15 Ciri-Ciri Pengikut Ajaran Firqah Wahabi yang Perlu Anda Ketahui

Syiah dan Wahabi adalah dua firqah dalam Islam yang selalu bermusuhan. Sepanjang sejarah, keduanya tidak pernah akur, bagaikan air dan minyak, tidak pernah bisa bersatu. Satu sama lainnya saling mengkafirkan, bahkan hingga kini kedua belah pihak saling bernafsu untuk memerangi dan membunuh pihak lainnya. Lihat saja “Konflik Berdarah” di Iraq, Syria, dan Yaman saat ini, yang telah menjadi “Tragedi Kemanusiaan” yang sangat memilukan dan menyayat hati umat Islam mana pun yang mencintai Wihdah Islamiyyah.


Pengikut Syiah memandang Wahabi lebih berbahaya daripada Yahudi maupun Nashrani dan bahkan melabelinya dengan sebutan “Wahabi Takfiri” karena suka mengkafirkan padahal tidak semua Wahabi demikian. Sementara bagi pengikut Wahabi justru kelompok Syiah lah yang lebih berbahaya daripada Yahudi dan Nashrani sehingga tidak segan-segan Wahabi mempropagandakan “Syiah Bukan Islam” padahal tidak semua Syiah demikian. Keduanya saling serang dan tuduh satu sama lain, sama-sama anti dialog dan anti toleransi antar madzhab Islam. Keduanya selalu menolak bahkan merusak semua upaya pemersatuan umat Islam sepanjang zaman. Tidak heran Sayyidil Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad rahimahullah dalam kitab “Tatsbiitul Fu-aad” juz 2 halaman 227 menyatakan keduanya bagaikan “Kotoran Unta yang dibelah dua.” (Lihat: Bahaya Propaganda Yel-Yel “Syiah Bukan Islam” dan “Wahabi Takfiri”).

Untuk itulah mengenal Syiah dan Wahabi adalah perkara penting agar tidak terjerumus dan ikut-ikutan firqah tersebut. Dalam kita mengenal Syiah itu jauh lebih mudah ketimbang mengenal Wahabi karena Syiah tidak mengaku-ngaku sebagai kelompok ahlussunnah wal jama’ah. Siapapun orangnya yang menghina Sahabat Nabi baik mengaku Syiah atau bukan maka ia termasuk golongan di luar ahlussunnah wal jama’ah. Lain halnya dengan Wahabi yang sering mengklaim dirinya sebagai kelompok ahlussunnah wal jama’ah sehingga seringkali sulit terdeteksi. Meski demikian, muslimin ahlussunnah masih dapat dengan mudah untuk mengenal mana Wahabi dan mana yang bukan Wahabi melalui 15 ciri-ciri yang akan disebutkan dibawah. Dan perlu diketahui biasanya pengikut Wahabi ini tidak hanya menganggap diri sebagai pengikut ahlussunnah wal jama’ah tetapi juga terkadang menyebut dirinya sendiri sebagai kelompok Muwahhidun, Penegak Tauhid, Pemurni Tauhid, Pemberantas TBC (Takhayul, Bid’ah dan Khurafat), Pengikut Salaf, Pengikut Manhaj Salaf, Salafi, dan lain sebagainya. (Lihat: Biografi Lengkap Pendiri Wahabi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab).

Mengingat pentingnya mengenal kelompok Wahabi maka di sini kami coba uraikan perkara-perkara atau ciri-ciri mengenai ajaran yang dianut Wahabi. Setidaknya ada 15 perkara atau ciri-ciri (atau bisa lebih) yang mana apabila terdapat pada diri seseorang maka tidak diragukan lagi sebagai pengikut Wahabi. Berikut ciri-cirinya:


  1. Bukan semua individu yang meninggalkan bacaan Qunut itu dikira sebagai Wahabi, tetapi siapa saja yang menyerupakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan makhlukNya dan mensifatkanNya dengan anggota maka tidak diragukan lagi ia adalah Wahabi. (Lihat: Kitab Tanbihat Fi Rad ‘Ala Man Tawwala al-Sifaat, Karangan Ibn Baz, terbitan Riasah ‘Ammah Lilifta’, Riyad, hlm 19).
  2. Bukan semua individu yang meninggalkan Shalat Sunnah Qabliyyah sebelum Jum’at itu dikira sebagai Wahabi, tetapi siapa saja yang mengkafirkan al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah serta menghalalkan darah mereka itu maka tidak diragukan lagi ia adalah Wahabi. (Lihat: Kitab Min Masyahir al-Mujaddidin Fi Islam, terbitan Riasah ‘Ammah Lilifta’, Riyadh, hlm 32. Kitab Fathul Majid karangan Abdul Rahman, terbitan Maktabah Darul Salam Riyadh, hlm 353. Kitab Manhaj Asya’irah fil Aqidah, karangan Dr Safar al-Hawali, hlm 5, 16 dan 29. Kitab Lal-Maturidiyyah Wamauqifuhum Minal Asma’ Wa Sifaat, karangan Syamsul Salafi al-Afghani, 10,11 dan 44. Kitab al-Tauhid, terbitan tahun 1423 H, hlm 66-67, dimana ulama Wahabi Soleh Fauzan al Wahhabi berkata: فهؤلاء المشركون هم سلف الجهمية والمعتزلة والأشاعرة “Maka golongan musyrik tersebut adalah salaf firqah al-Jahmiyyah, al-Muktazilah dan al-Asya’irah (Asy’ariyyah)”.
  3. Bukan semua individu yang tidak mengumandangkan adzan sebanyak 2 kali pada hari Jum’at itu dikira sebagai Wahabi, tetapi siapa saja yang mengkafirkan umat Islam yang bertawassul dengan Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam dan menghalalkan darah serta harta mereka maka tidak diragukan lagi ia adalah Wahabi. (Lihat: Kitab al-Tauhid karangan Shaleh Fauzan, hlm 70).
  4. Bukan semua individu yang meninggalkan majelis Tahlil (Tahlilan) kepada si mayyit itu dikira sebagai Wahabi, tetapi siapa saja yang mensifati Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan duduk bersemayam, menetap, bergerak, dan berpindah-randah maka tidak diragukan lagi ia adalah Wahabi. (Lihat: Kitab Fathul Majid, karangan Abdul Rahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahhab, cetakan Darul Salam, Riyadh, hlm 356. Kitab Fatawa Aqidah, karangan Ibn al-Utsaimin, hlm 742).
  5. Bukan semua individu yang mendakwa dan mendengungkan dia mengikut al-Quran dan as-Sunnah itu dikira sebagai Wahabi, tetapi siapa saja yang mengkafirkan orang yang mengikut mazhab-mazhab yang muktabar (seperti madzhab Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Hanbali), menghalalkan darah mereka serta menganggap taqlid kepada imam-imam mazhab itu adalah syirik maka tidak diragukan lagi ia adalah Wahabi. (Lihat: Kitab al-Din al-Khalish, karangan al-Qanuji, jilid 1 hlm 140 dikatakan: تقليد المذاهب من الشرك “Mengikut mazhab-mazhab yang muktabar adalah syirik”. Dengan ini, mereka telah mengkafirkan mayoritas umat Islam di seluruh dunia pada hari ini dan umat Islam sebelumya yang beramal dan bertaklid kepada mazhab-mazhab yang empat).
  6. Bukan semua individu yang membayar zakat Fitrah dengan mengeluarkan bahan makanan seperti beras itu Wahabi, tetapi siapa saja yang melarang atau mengharamkan perjalanan dengan tujuan untuk menziarahi maqam Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam itu maka tidak diragukan lagi ia adalah Wahabi. (Lihat: Kitab Tahqiq Wal Idhoh Likathir Min Masail al-Haj Wa al-‘Umrah, hlm 88, 89, 90,dan 98).
  7. Bukan semua individu yang meninggalkan ucapan Sayyidina “سيدنا” ketika bersholawat kepada Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam itu dikira sebagai Wahabi, tetapi siapa saja yang mengharamkan majelis Maulid Nabi dan mengkafirkan pelakunya maka tidak diragukan lagi ia adalah Wahabi. (Llihat: Kitab al-Tauhid, karangan Shaleh bin Fauzan, Riyadh, hlm 166 dan 120. Kitab Tahzir Min al-Bid’ah, karangan Ibn Baz, hlm 3, 4, 5 dan 5).
  8. Bukan semua individu yang tidak mengamalkan membaca Quran Surah Yasin (Yasinan) pada malam Jum’at adalah Wahabi, tetapi siapa saja yang mengharamkan bacaan al-Quran kepada orang yang telah meninggal dunia maka tidak diragukan lagi dia adalah Wahabi. (Lihat: Kitab Taujihaat Islamiyyah, karangan Muhammad Zainu, Riyadh. Hlm 137).
  9. Bukan semua individu yang meninggalkan doa dan dzikir setelah shalat itu dikira sebagai Wahabi, tetapi siapa saja yang mengharamkan amalan bertabarruk dengan Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam dan menuduh orang yang melakukannya dengan syirik serta menghalalkan darah mereka maka tidak diragukan lagi ia adalah Wahabi. (Lihat: Kitab Islamiyyah La Wahhabiyyah, karangan Nashir bin ‘Abdul Kareem Al-‘Aqal, hlm 87. Kitab Tahzir al-Sajid Min Ittikhaz al-Qubur Masajid, hlm 68-69).
  10. Bukan semua individu yang tidak melafadzkan niat (seperti niat shalat Usholli, niat Puasa Ramadhan, dll) itu dikira sebagai Wahabi, tetapi siapa saja yang meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala duduk atau bersemayam di atas ‘Arasy (langit) maka tidak diragukan lagi ia adalah Wahabi. (Lihat: Kitab Majalah Haji, Edisi 9 jilid 11, 1415 Hijriyyah, Makkah 73-74).
  11. Bukan semua individu yang mengatakan bahwa pahala bacaan al-Quran (seperti hadiah Al-Fatihah) tidak sampai kepada si mayyit melainkan dengan cara berdoa itu dikira sebagai Wahabi, tetapi siapa saja yang mengingkari kenabian Adam ‘Alaihis Salam maka tidak diragukan lagi ia dalah Wahabi. (Lihat: Kitab al-Iman bil Anbiya’ Jumlatan, karangan Abdullah bin Zaid, cerakan Maktabah Islami, Beirut. Kitab Syarah Thalathah al-Ushul, karangan Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin, Dar al-Thurauyya Linnasyr, hlm 149).
  12. Bukan semua individu yang melarang pembangunan di atas kuburan yang diwakafkan itu dikira sebagai Wahabi, tetapi siapa saja yang mengkafirkan para Sufi dan menganggap pembunuhan terhadap golongan Sufi adalah suatu perkara yang wajib maka tidak diragukan lagi ia adalah Wahabi. (Lihat: Kitab Majmu’ al-Mufid Min ‘Aqidah al-Tauhid, Maktabah Darul Fikr, Riyadh, hlm 102).
  13. Bukan semua individu yang mensifati Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan istiwa’ dikira sebagai Wahabi, tetapi siapa saja yang mentafsirkan istiwa’ yang warid di dalam al-Quran dengan makna duduk bersemayam (الجلوس) maka tidak diragukan lagi ia adalah Wahabi. (Lihat: Kitab Nazarot Wa Ta’aqubat ‘Ala Ma Fi Kitab Al-Salafiyyah, karangan Shaleh bin Fauzan, Cetakan Darul Watan Riyadh, hlm 40).
  14. Bukan semua individu yang tidak menyebut sifat 20 di dalam kitab-kitab mereka dikira sebagai Wahabi, tetapi siapa saja yang mensifatkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan anggota badan maka tidak diragukan lagi ia adalah Wahabi. (Lihat: Kitab Tanbihaat Fi Rod ‘Ala Man Taawwala al-Sifat, karangan Bin Baz, hlm 19).
  15. Bukan semua individu yang tidak mengusap tangan ke muka setelah berdoa dikira sebagai Wahabi, tetapi siapa saja yang mengharamkan ucapan Shodaqollohul ‘Adzim (صدق الله العظيم) setelah selesai membaca al-Quran, maka tidak diragukan lagi ia adalah Wahabi. (Lihat: Kitab Majalah Buhuth Islamiyyah, terbitan Riyasah Buhuth Al-‘Alamiyyah wa al- Ifta’, Edisi 45 tahun 1416 H, Riyadh, hlm 94. Kitab Taujihaat al-Islamiyyah, karangan Muhammad Zainu, hlm 81. Kitab al-Bahthu wa al-Istiqra’ Fi Bida’ al Qurra’, karangan Dr Muhammad Musa Nasr).

Melalui 15 perkara atau ciri yang telah disebutkan di atas maka kita sebagai pengikut ahlussunnah wal jama’ah dapat dengan mudah membedakan dengan pasti hakikat sebenarnya sipakah Wahabi, mana yang termasuk golongan Wahabi dan mana yang bukan Wahabi. Mungkin masih banyak lagi perkara atau ciri-ciri yang menandakan seseorang itu Wahabi atau bukan, bisa saja lebih dari 15 perkara di atas. Yang jelas, kelima belas ciri-ciri tersebut bisa dijadikan pedoman bagi kita untuk mendeteksi secara dini “kewahabian” dalam diri sendiri atau orang lain agar tidak terjerumus lebih jauh ke dalam firqah tersebut karena kadang kala seseorang itu sudah terpengaruh faham Wahabi tetapi tidak disadari. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melindungi kita dan keluarga kita dari fitnah akhir zaman, fitnah Syiah, fitnah Wahabi, fitnah Yahudi Nasrani, dan fitnah Dajjal.

Kamis, 08 Oktober 2015

Demi Selamatkan Ayah, Gadis 15 Tahun Pakai Kostum Sapi Setiap Hari

Hati anak mana yang tak prihatin dan tergerak ketika melihat orang tua dalam kesulitan. Sebagai anak yang baik dan patuh pada orang tua, ketika melihat orang tua susah atau sakit, sebagai anak kita diwajibkan untuk membantu. Dan pastinya, bantuan itu dilakukan tanpa pamrih sedikit pun. Kali ini, kisah menggetarkan hati sekaligus mengharukan dialami oleh seorang anak gadis berusia 15 tahun bernama Hao Dongdong asal Provinsi Anhui.



Dikutip dari laman shanghaiist.com, gadis ini telah memberikan kasih sayang luar biasa dan tanpa pamrih untuk sang ayah. Bagaimana tidak luar biasa, di saat anak-anak yang lain asik bermain, ia harus berusaha mengumpulkan uang untuk pengobatan sang ayah, Hao Xinli. Dari laporan yang ada, sang ayah sedang menderita penyakit langka yakni ankylosing spondylitis. Sebuah penyakit yang menyerang tulang ekornya hingga membuatnya lumpuh dan tak bisa beraktivitas seperti sebelumnya.

Awalnya, sang ayah bekerja sebagai petani. Ia dan keluarganya lalu pindah ke Hefei pada tahun 2000. Di Hefei, Hao Xinli membuka toko kecil, namun sayang, kemudian ia sakit dan penyakit itu membuatnya tak bisa bekerja sama sekali. Penyakit yang dideritanya ini sendiri bermula ketika ia bersama sang istri Li Xiuru berbelanja di sebuah toko ponsel di Hefei. Karena sedang ada promo besar-besaran, mereka pun mendapatkan banyak diskon. Tapi entah kenapa, setelah mendapat banyak barang gratisan, salah satu penjaga toko marah dan ia pun menyerang Xinli. Sejak saat itulah, tulang ekor Xinli mengalami cidera dan sakit sampai saat ini.

Saat dibawa ke rumah sakit, dokter mengatakan jika tulang ekor Xinli mengalami retak. Tak hanya itu saja, tulang leher pria ini juga mengalami patah. Sayang, polisi tak menemukan penjaga toko yang menyerang Xinli. Pihak toko juga tidak memberikan kompensasi pada keluarga ini. Hal inilah yang membuat Xinli harus berjuang mencari pengobatan dengan biaya sendiri. Lama-kelamaan, dana untuk biaya pengobatan Xinli bahkan telah terkuras habis. Sang istri pun memilih meninggalkannya.

Beruntung, buah hatinya Hao Dongdong yang kini berusia 15 tahun dengan setia merawat dan menemani sang ayah. Gadis ini juga yang selama beberapa tahun terakhir mencarikan dana pengobatan untuk sang ayah. Dalam kesehariaannya, Hao mengenakan kostum sapi dan mengemis agar mendapatkan uang. Hao dan beberapa saudaranya kini telah menjadi tumpuan keluarga. Dan satu-satunya cara yang bisa ia lakukan adalah mengemis di siang hari dengan kostum sapi.

Bagi Hao, tidak mudah menjalani aktivitasnya sebagai pengemis demi pengobatan sang ayah. Tidak jarang ia diperlakukan kasar oleh orang lain dan juga dianggap sebagai penipu yang malas bekerja. Saat mencoba mencari pekerjaan sebagai pelayan toko, ia ditolak mentah-mentah oleh pemilik toko karena dianggap membawa sial. Meski begitu, dengan menjadi pengemis dan memakai kostum sapi, Hao setidaknya bisa membawa pulang uang sebesar 400 yuan atau setara dengan 800 ribu rupiah setiap harinya.

Xinli mengaku tak ingin dirinya tetap lumpuh. Ia ingin bahwa dirinya bisa kembali normal seperti semula. Dari lubuk hati yang paling dalam, Xinli mengatakan jika ia ingin kembali menjadi pelindung untuk keluarganya. Ia juga berharap bahwa putrinya Hao Dongdong bisa kembali sekolah dan mencapai cita-citanya. Keluarga ini sangat berharap agar pemerintah setempat bersedia membantunya. Keluarga ini juga berharap bahwa kehidupan mereka bisa kembali normal seperti semula.

Sedih sekali dengan cerita ini ya Ladies. Semoga saja keluarga bisa mendapatkan apa yang mereka harapkan dan hidup mereka pun menjadi lebih baik dari ini.

KISAH KAKEH DAN PENCURI PEPAYA

Saya ingin mengawali renungan kita kali ini dengan mengingatkan pada salah satu kisah kehidupan yang mungkin banyak tercecer di depan mata kita. Cerita ini tentang seorang kakek yang sederhana, hidup sebagai orang kampung yang bersahaja. Suatu sore, ia mendapati pohon pepaya di depan rumahnya telah berbuah. Walaupun hanya dua buah namun telah menguning dan siap dipanen. Ia berencana memetik buah itu di keesokan hari. Namun, tatkala pagi tiba, ia mendapati satu buah pepayanya hilang dicuri orang.



kisah inspirasi kakek dan pencuri pepaya

Kakek itu begitu bersedih, hingga istrinya merasa heran. “masak hanya karena sebuah pepaya saja engkau demikian murung” ujar sang istri.

“bukan itu yang aku sedihkan” jawab sang kakek, “aku kepikiran, betapa sulitnya orang itu mengambil pepaya kita. Ia harus sembunyi-sembunyi di tengah malam agar tidak ketahuan orang. Belum lagi mesti memanjatnya dengan susah payah untuk bisa memetiknya..”

“dari itu Bune” lanjut sang kakek, “saya akan pinjam tangga dan saya taruh di bawah pohon pepaya kita, mudah-mudahan ia datang kembali malam ini dan tidak akan kesulitan lagi mengambil yang satunya”.
Namun saat pagi kembali hadir, ia mendapati pepaya yang tinggal sebuah itu tetap ada beserta tangganya tanpa bergeser sedikitpun. Ia mencoba bersabar, dan berharap pencuri itu akan muncul lagi di malam ini. Namun di pagi berikutnya, tetap saja buah pepaya itu masih di tempatnya.

Di sore harinya, sang kakek kedatangan seorang tamu yang menenteng duah buah pepaya besar di tangannya. Ia belum pernah mengenal si tamu tersebut. Singkat cerita, setelah berbincang lama, saat hendak pamitan tamu itu dengan amat menyesal mengaku bahwa ialah yang telah mencuri pepayanya.

“Sebenarnya” kata sang tamu, “di malam berikutnya saya ingin mencuri buah pepaya yang tersisa. Namun saat saya menemukan ada tangga di sana, saya tersadarkan dan sejak itu saya bertekad untuk tidak mencuri lagi. Untuk itu, saya kembalikan pepaya Anda dan untuk menebus kesalahan saya, saya hadiahkan pepaya yang baru saya beli di pasar untuk Anda”.

Hikmah yang bisa diambil dari kisah inspirasi diatas, adalah tentang keikhlasan, kesabaran, kebajikan dan cara pandang positif terhadap kehidupan.

Mampukah kita tetap bersikap positif saat kita kehilangan sesuatu yang kita cintai dengan ikhlas mencari sisi baiknya serta melupakan sakitnya suatu “musibah”?

"Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya, dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya, dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta."
Kisah inspirasi diatas dikutip dari khutbah yang ditulis oleh ustadz Saiful Amien. Diambil dari

Rabu, 07 Oktober 2015

Pembedahan Dada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Jibril telah datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala sedang bermain dengan anak-anak, kemudian Jibril mengambilnya dan membedah dadanya kemudian mengeluarkan jantungnya dan mengeluarkan darinya gumpalan darah, ia (Jibril) berkata, “Ini adalah jatah setan pada dirimu,” kemudian jantung itu dicuci dengan air zamzam pada bejana yang terbuat dari emas, kemudian dia kembalikan kepada tempatnya.

Kemudian anak-anak teman bermainnya itu menemui ibunya, mereka berkata, “Muhammad telah dibunuh.” Kemudian mereka menemuinya dan mendapati dia dalam kondisi pucat. Anas berkata, “Saya telah melihat melihat bekas jahitan pada dadanya.” [HR.Muslim 1/147, Kitab Al Iman, No.261]



Pada riwayat Abu Nu’aim dari Ibnu Katsir terdapat tambahan perincian, naskahnya sebagai berikut, “Perawat saya adalah wanita dari Bani Sa’ad bin Bakrah. Suatu saat saya dan anaknya pergi bersama domba-domba kami, sementara kami belum membawa bekal makanan, saya berkata [1], “Wahai saudaraku, pergilah minta bekal air ibunda kita.”

Saudara saya itu pergi dan saya menunggu disekitar domba-domba kami, kemudian datanglah dua makhluk terbang seakan-akan dua ekor burung elang, salah satu di antara keduanya berkata kepada temannya, “Apakah orang ini yang dimaksud?” Dia berkata, “Iya.” Kemudian keduanya mendatangi saya, merebahkan saya dan membedah dadaku, kemudian mengeluarkan jantungku dan mengeluarkan dua gumpalan darah berwarna hitam. Salah satu di antara keduanya berkata, “Berikan saya air salju, lalu mereka mencuci bagian dalam dadaku, kemudian dia berkata lagi, “Berikan saya air embun”, kemudian mereka berdua mencuci jantung saya. Dia berkata lagi, “Datangkan kemari sakinah (ketentraman).” Dia akhirnya menanam ketentraman itu dalam jantungku, kemudian dia berkata, “Jahit”, Dia menjahit dadaku dan memberikan stempel kenabian di atas dadaku.” [2]

Ibunya cemas telah terjadi sesuatu dengannya, maka dengan segera dia membawanya ke ibunya di Mekah, Dia berkata, “Saya telah menunaikan amanah dan tugas saya.” Saya menceritakan kepadanya tentang apa yang telah terjadi, sedangkan ibunya Aminah, berkata dengan maksud menenangkan perasaan Halimah, “Saya telah melihat waktu saya mengandungnya terdapat cahaya yang keluar dari diri saya yang menerangi istana-istana yang ada di Syam.”

Pendapat yang rajih (kuat) adalah kejadian itu terjadi pada saat usia Rasulullah empat tahun, [3] dan telah benar kejadiannya bahwa pada peristiwa Isra’ dan Mi’raj seperti yang akan di bahas secara khusus telah terjadi pembedahan dada untuk yang kedua kalinya.[5]

Note:

[1] Ini menunjukkan bahwa pada masa pembedahan dada adalah pada tahun ke empat atau setelahnya, karena usia sebelum itu tidak mungkin dibiarkan pergi menggembala domba, dan dia belum bisa berkomunikasi dengan baik, dan belum mengerti kebutuhan tentang bekal makanan, apalagi meminta saudaranya untuk mengambil bekal.

[2] Ibnu Katsir, Al Bidayah wan Nihayah. Lihat juga; Adz-Dzahabi, As Sirah hal 21, As-Syami, Subukhuda, 2/82. As Shabuni, As-Sirah An Nabawiyah Kama Ja’at fil Ahaditsi As Shahihah hal.28

[3] Lihat; Muhammad Abu Syahbah, As Sirah An Nabawiyah fidhaui Al Qur’an was Sunnah, 1/192

[4] Bukhari no.3887, Muslim 1/149 no.264.

Sumber: Fikih Sirah, Prof.Dr.Zaid bin Abdul Karim az-Zaid, Penerbit Darussunnah

Kisah Anjing Yang Mengungkap Pembunuh Majikannya

Mubasysyir ar-Rumy menceritakan bahwa dia pernah mendengar kisah mantan budaknya yang dikenal dengan Abu ‘Utsman, Zakaria al-Madany, sering disebut Ibn Fulanah. Ia seorang tajir yang mulia, banyak harta, terkenal murah hati, dapat dipercaya, orang yang memegang amanah dan juga suka meriwayatkan hadits.

Di dekat rumahnya, di Baghdad ia bertetangga dengan seorang laki-laki dari kalangan orang-orang fanatik yang suka bermain dengan anjing.

Suatu hari ia pergi sampai larut malam untuk suatu hajat, lalu diikuti anjing kesayangannya namun ia mengusirnya, tetapi anjingnya ini tidak mau pulang sehingga terpaksa ia biarkan ikut.


Ia terus berjalan hingga berhenti di tempat ‘mangkal’ beberapa orang yang memendam rasa permusuhan terhadapnya. Mengetahui kehadirannya di situ apalagi dirinya tanpa bersenjata, maka mereka pun menangkapnya. Sementara anjingnya yang ikut membuntuti sang majikan melihat apa yang dilakukan mereka. Rupanya, mereka membawanya masuk ke rumah diikuti anjing dengan diam-diam. Di sana, mereka membunuh majikannya tersebut lalu menguburkannya di sebuah sumur di dalam rumah itu. Karena melihat ada anjing, mereka pun menggebuknya, untung saja anjing itu bisa lari sekali pun terluka. Anjing yang dalam keadaan terluka ini mendatangi rumah majikannya sembari menggonggong namun penghuni rumah tidak menghiraukannya.

Sementara itu, sang ibu merasa kehilangan putranya karena seharian ini belum juga nongol. Namun akhirnya ia dapat mengetahuinya melalui kondisi anjingnya yang mengalami luka cukup parah. Ia berpikir bahwa ini pasti perbuatan orang yang membunuh putranya dan putranya tentu sudah dihabisi. Karena itu, ia pun mengadakan undangan makan dan mengusir anjingnya itu dari pintu.

Akan tetapi, anjing itu tidak beranjak dari pintu itu dan tidak lari. Mereka biasanya dalam beberapa kesempatan selalu mencarinya.

Suatu hari, beberapa orang yang membunuh majikan anjing itu lewat di depan pintu rumahnya sementara anjing saat itu sedang berbaring. Melihat wajah orang-orang tersebut, ia langsung mengenalnya. Seketika ia melukai betis salah seorang dari mereka, menggigit sembari menggelayut di tubuhnya.

Orang-orang itu berusaha menyelamatkan teman mereka dari gigitan anjing namun tidak berhasil sehingga suasana pun jadi gaduh. Kemudian datanglah SATPAM rumah untuk melihat keadaan seraya berkata, “Anjing ini tidak akan bergelayutan pada orang ini kecuali karena ia punya kisah dengannya. Barangkali dia lah yang telah melukainya.”

Tak berapa lama, keluarlah ibu majikan anjing tersebut dan ketika ia melihat wajah orang yang digigit itu sedang digelayuti anjing dan mendengar ucapan SATPAM, ia kemudian melihatnya secara teliti dan mengamatinya. Setelah itu, barulah ia teringat bahwa orang tersebut adalah salah seorang yang pernah bermusuhan dengan putranya dan selalu mencarinya. Bahkan terbetik dalam diri sang ibu bahwa dia lah yang telah membunuh putranya. Akhirnya, ia memastikan hal itu dan menuduh orang tersebut sebagai pelaku pembunuhan. Sang ibu ini lalu memperkarakan orang tersebut kepada pihak kepolisian yang kemudian menahannya setelah sebelumnya dipukul terlebih dahulu agar mau mengaku tetapi sayang ia tidak mau mengaku. Maka, anjing itu pun tetap berada di pintu sel setia menunggu orang tersebut.

Setelah beberapa hari berlalu, orang itu pun dibebaskan. Ketika ia keluar, sang anjing kembali menggelayutinya seperti sebelum-sebelumnya, maka orang-orang pun merasa aneh dengan tingkah anjing tersebut.

Menyikapi kejadian aneh itu, kepala kepolisian merencanakan sesuatu untuk menjebak para pembunuh majikan anjing itu. Ia secara rahasia berbisik kepada beberapa anak buahnya agar memisahkan anjing itu dari orang tersebut, lalu membuntuti kemana orang itu pergi untuk mengetahui kediamannya dan agar dapat terus memantaunya. Maka, perintah itu pun dipatuhi anak buahnya.

Sementara anjing terus berjalan di belakang orang yang dituduh membunuh itu, diikuti anak buah kepala kepolisian yang juga membuntuti dari belakang hingga sampai ke kediaman para penjahat tersebut.

Kemudian polisi yang dikirim atasannya itu mendobrak kediaman tersebut secara mendadak, namun tidak menemukan apa-apa. Lalu anjing yang turut masuk melolong dan mencari-cari letak sumur di mana majikannya dikubur dan dibuang.

Sang polisi berkata, “Gali tempat yang telah digali anjing ini.!” Maka tempat itu pun digali dan ternyata mayat korban dapat ditemukan.

Kemudian penjahat itu dibawa dan dipukuli. Setelah berkali-kali digebuki, barulah ia mengaku bahwa dirinya dan teman-temannya lah yang melakukan pembunuhan itu. akhirnya, ia pun dieksekusi mati sementara teman-temanya yang lain masih terus diburu karena berhasil melarikan diri.

(SUMBER: Nihaayah azh-Zhaalimiin karya Ibrahim bin ‘Abdullah al-Hazimy, Juz.IX, h.91-94, no.39 sebagai yang dinukilnya dari I’laam Ahl al-‘Ashr al-Ahbaab Bi Ahkaam al-Kilaab karyanya sendiri yang belum dicetak -barangkali sudah dicetak sekarang,

Selasa, 06 Oktober 2015

MEMBONGKAR PROPAGANDA SYIAH VS WAHABI DI BALIK TRAGEDI MINA 1436 H

Tragedi Mina terulang kembali. Dilaporkan ratusan jiwa jamaah haji meninggal dunia, sementara ratusan lainnya luka-luka dan ada juga yang hilang belum kembali ke maktabnya.



Di saat jamaah haji dilanda musibah, bukannya mendoakan dan instropeksi, kelompok Syiah dan Wahabi malah berulah. Mereka, Syiah dan Wahabi, malah saling tunjuk menuding satu sama lain sebagai biang kerok penyebab tragedi Mina 1436 H. Lihatlah berbagai media di Indonesia yang menyalahkan satu dengan lainnya.

Yang sangat disayangkan adalah umat Islam di Indonesia begitu mudahnya terprovokasi oleh media-media yang disetir kelompok sekte Syiah dan Wahabi. Pemberitaan yang muncul ditelan mentah-mentah tanpa cek klarifikasi dan mengamati sumber pemberitaan. Alhasil, tidak sedikit muslim Indonesia yang berfaham ahlussunnah wal jamaah (Aswaja) ikut-ikutan termakan media Syiah dan Wahabi. Kita tentu tidak ingin ini berlanjut, saling menyalahkan yang berujung saling menjelekan dan menghina hingga timbul fitnah. Na'udzubillah.

Mari kita cermati bersama dan jadilah umat Islam yang cerdas yang tidak mudah terpengaruh berbagai media propaganda yang sengaja ingin memasukan konflik Syiah vs Wahabi ke tanah air tercinta. Jangan jadi umat Islam kagetan, yang sedikit-sedikit heboh, dan ikut-ikutan terbawa arus media.

Yuk kita cermati bersama....

Setelah tragedi Mina, muncul spekulasi berbagai penyebabnya yang dihembuskan banyak media. Pertama, media-media di Indonesia menuding penyebab terjadinya tragedi Mina adalah akibat konvoi Putra Mahkota Arab Saudi. Akibat konvoi tersebut, jamaah haji tiba-tiba berhenti mendadak dan ini menyebabkan penumpukan jamaah, saling berdesak-desakan dan terjadilah tragedi Mina yang menelan ratusan korban jiwa. Spekulasi pertama ini muncul beberapa jam bahkan beberapa menit setelah kejadian. Darimana sumber asal muasal spekulasi pertama ini? Ternyata media-media di Indonesia itu mengambil sumber itu dari media ABNA, yang berkedudukan dan berafiliasi dengan Iran. ABNA sendiri disebutkan mengambil sumber dari media Libanon. Dan kita tahu ABNA sebagai media propaganda Iran yang menganut madzhab Syiah. Tidak heran, media ABNA ini begitu gencar mengkritik dan menyalahkan Arab Saudi atas tragedi Mina, yang merupakan lawan politiknya. Dari pemberitaan ABNA ini kemudian menyebar di Indonesia. Termasuk pemberitaan 28 petugas haji yang katanya dihukum pancung. Muslimin Aswaja berpikirlah cerdas karena media ABNA ini adalah salah satu bagian media propaganda milik Syiah. Jangan mau kita diadudomba oleh Syiah dengan menelan mentah-mentah pemberitaan mereka.

Mari kita lanjutkan ke spekulasi kedua....

Tidak mau ketinggalan dengan Syiah yang lebih dahulu menyebarkan propagandanya, media-media Wahabi di Indonesia pun ramai-ramai menebar fitnahnya. Media Wahabi menuding Syiah adalah penyebab tragedi Mina. Dikatakan media Wahabi, jamaah haji asal Iran tidak mematuhi instruksi atau aturan dalam berjalan menuju atau keluar tempat jumrah. Jamaah tidak disiplin sehingga terjadilah tragedi naas tersebut. Bahkan disebutkan ada videonya demi mendukung aksi fitnah Wahabi.

Darimana sumbernya? Media wahabi di Indonesia ternyata serentak pertama kali mengambil sumber dari situs SABQ, media berbahasa Arab dengan tajuk Arab Saudi Newspaper Online. Kami pun menelusuri media Sabq tersebut. Ternyata itu media abal-abal. Media online Sabq tidak ada alamat kontak yang jelas, hanya berupa kontak Form, banyak ditemukan link yang tidak dapat di klik,

bahkan banyak link-link yang kosong dengan halaman kosong, sampai link pencarian Search nya pun rusak tidak ditemukan form pencariannya. Masih percaya dengan media abal-abal ini? Media inilah yang menjadi mula-mula sumber pemberitan website Wahabi, yang berafiliasi dengan Wahabi Salafi Arab Saudi. Anda bisa lihat sendiri website-website wahabi salafi di Indonesia yang serempak ramai-ramai memberitakan kesalahan jamaah Iran. Padahal di media luar negeri ternama tidak ada satu pun pemberitaan tentang hal tersebut dan hanya ada di Indonesia. Unik bukan? Sama halnya dengan Syiah, berbagai cara pun dihalalkan oleh Wahabi. Dan kita sebagai muslim Aswaja harus cerdas, bahwa media-media wahabi di Indonesia adalah kaki tangan Arab Saudi yang menganut madzhab Salafi Wahabi. Jangan mau kita diadudomba oleh Wahabi.

Syiah dan Wahabi merupakan benalu yang ingin merusak Islam dari dalam, yang ingin meruntuhkan Islam ahlussunnah wal jamaah. Kedua sekte bentukan Yahudi ini mesti kita hindari dan jauhi. Namun, kita tetap harus mengedepankan akhlak dalam menghadapi Syiah dan Wahabi.

Kepada saudaraku, seluruh umat Islam Indonesia khususnya muslimin ahlussunnah wal jamaah (Aswaja), marilah kita jaga Islam di negeri kita. Waspadalah konflik Syiah vs Wahabi yang ingin diadopsi di Indonesia. Cukuplah konflik di negara Timur Tengah menjadi pelajaran bagi kita.

Ketahuilah tujuan dibenturkannya Syiah vs Wahabi di Indonesia adalah satu, ingin menghancurkan Islam Aswaja. Kita jangan mau termakan isu propaganda yang digencarkan media Syiah maupun Wahabi. Media Syiah seperti Arrahmahnews, IslamTimes, ABNA Indonesia, IRIB Indonesia, dll begitu brutalnya menyalahkan Arab Saudi sebagai satu-satunya pihak yang bertanggungjawab.

Sementara media Wahabi seperti Arrahmah, Voa-Islam, Nahimunkar, Panjimas, GemaIslam, Kiblat, Tabayyunnews, Islampos, PKS Piyungan, dll begitu ghuluwnya mendewa-dewakan "tuannya" Arab Saudi seolah negeri wahabi tersebut bersih dari kesalahan. Sampai sekarang, kedua media tersebut (yang berafiliasi dengan Syiah dan Wahabi), masih terus saling menuduh dan menyalahkan dengan membuat spekulasi-spekulasi baru, alasan baru, dan bukti pembenaran yang baru.

Saatnya kita dewasa menjadi muslim Aswaja yang cerdas, yang tidak mudah terbawa arus, tidak mudah ikut-ikutan media khususnya media Syiah dan Wahabi, dan tidak mudah menyalahkan meskipun dengan pihak yang kita benci. Cukuplah menjadi muslim Aswaja yang kuat, yang tidak sedikit-sedikit heboh dan kagetan. Stop menyebarkan berita-berita hoax, berita tidak jelas, berita fitnah, berita yang suka menuduh pihak lain dan merasa paling benar sendiri. Khususnya yang saat ini terjadi tentang tragedi Mina, stop menyebarkan berita yang menyalahkan pihak tertentu, hati-hatilah akan fitnah. Janganlah ikuti permainan iblis. Jadilah muslim Aswaja yang berakhlak seperti Sayyidina Rasulullah, bukan seperti Syiah Rafidhah dan Wahabi Salafi yang suka bermusuhan dan menebar kebencian dan fitnah.

Jaga ukhuwah umat Islam. Jaga Islam kita, jaga Islam Aswaja dan NKRI kita. Dan waspadalah terhadap kelompok yang ingin menebar konflik Syiah vs Wahabi di Nusantara. Jangan termakan yel-yel propaganda yang mengatakan "Syiah Bukan Islam" atau "Wahabi Takfiri" (Lihat:http://www.elhooda.net/…/bahaya-propaganda-yel-yel-syiah-b…/).
Bersama kita bisa menjaga Islam Aswaja.

INGATLAH INI SEMUA PERMAINAN SYIAH DAN WAHABI YANG INGIN MENGHANCURKAN ASWAJA. KITA SEBAGAI MUSLIM ASWAJA, SEBAIKNYA HINDARI MENYEBARKAN LINK WEBSITE SYIAH DAN WAHABI. DAN TIDAK PERLU KITA IKUT-IKUTAN MENCARI KESALAHAN DAN MENUDUH ORANG LAIN SEBAGAI PENYEBAB TRAGEDI MINA. ALLAH SUBHANAHU WA TA'ALA YANG MAHA TAHU SEGALA SESUATU.

Tetap ikuti jejak Guru-Guru kita, para Habaib kita, para Kiai kita, yang mengikuti akhlak Rasulullah. Kita doakan para jamaah haji di sana, baik yang telah wafat, yang sakit, yang luka-luka, tersesat, ataupun yang sehat wal afiyat agar selamat dunia akhirat.
Salam Ukhuwah....

SEBARKAN KEPADA SAUDARA-SAUDARA KITA MUSLIM ASWAJA

Sabtu, 03 Oktober 2015

TANDA-TANDA KEMUNCULAN FITNAH DAJJAL DI MADINAH AL-MUNAWWARAH

Tidak ada fitnah yang lebih besar melebihi dari fitnah Dajjal. Tiap tahun bertambahlah fitnah dan akan muncul fitnah lagi yang lebih dahsyat hingga akhirnya muncullah fitnah Dajjal. Kita tidak tahu kapan itu akan terjadi, tetapi Guru Mulia kita Sayyidil Habib Umar bin Hafidz pernah mengatakan bahwa siapa saja diantara kalian yang Allah panjangkan umurnya akan mendapatkan zaman tersebut (fitnah Dajjal).

alt

Terkait fitnah Dajjal ini, Habib Umar bin Hafidz berpesan dan agar disebarkan juga kepada saudara-saudara kita untuk membaca Al-Qur’an Surat Al-Kahfi sepuluh ayat pertama atau sepuluh ayat yang terakhir, dianjurkan agar dihafalkan sehingga bisa dibaca setiap hari. Khusus pada malam Jumat atau hari Jumat membaca Al-Qur’an Surat Al-Kahfi seluruhnya, tapi minimal kita hafal sepuluh ayat. Karena Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam bersabda bahwa barangsiapa menghafal sepuluh ayat pertama Surat Al-Kahfi maka ia akan aman dari fitnah Dajjal. Oleh karena itu, ajarkanlah kepada para wanita istri-istri kita, anak-anak kita, saudara-saudari kita, ajarkan kepada mereka. Kenapa? Karena kelak pada saat zaman kemunculan Dajjal, hampir seluruh penghuni di permukaan bumi ini akan kafir dan beriman kepada Dajjal. Disebabkan pada zaman itu cobaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala begitu besar, tidak ada air satu tetes pun yang turun dari langit, tidak ada hujan, tumbuhan pun tidak ada yang tumbuh, dan semua orang akan mengalami kelaparan. Saat itulah Dajjal akan membawa makanan, memerintahkan langit untuk turun hujan, memerintahkan tanah untuk menumbuhkan tanaman, sehingga orang-orang yang tidak kuat imannya akan mengikuti Dajjal. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melindungi kita dari fitnah Dajjal.


Sebagaimana diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, kelak di akhir zaman Dajjal akan terus menyerang semua manusia dan semua tempat hingga sampailah Dajjal tiba di kota Madinah Al-Munawwah, akan tetapi Dajjal tidak bisa masuk ke dalamnya. Maka akan berguncanglah Madinah dengan 3 kali gempa. Sebelumnya Madinah tidak pernah gempa. Sepanjang Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam masuk ke Madinah Al-Munawwarah di saat hijrah sampai akhir zaman kota Madinah tidak akan pernah gempa terkecuali saat itu, yakni saat datangnya Dajjal di depan Madinah Al-Munawwarah. Pada saat itu Madinah akan mengalami gempa dengan 3 kali guncangan sehingga keluarlah semua orang kafir dan munafik. Maka berkata Imam Ibn Hajar di dalam kitabnya Fathul Baari bi Syarah Shahih Bukhari bahwa di saat itu semua Rasul mengatakan munafik, fasik, kafir, semuanya keluar dari Madinah kecuali orang–orang mukhlisin, yakni orang-orang yang mencintai Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam yang tidak akan bergeming dari Madinah Al-Munawwarah. Sebagaimana kita ketahui, sampai saat ini banyak orang musyrik, fasik, ada di Madinah dan mereka akan keluar di saat guncangan 3 kali sehingga mereka keluar mengikuti Dajjal. Pada saat itulah Dajjal membawa pasukannya mengepung Madinah Al-Munawwarah. Imam Ibn Hajar menukil salah satu hadits dalam kitabnya Fathul Baari bi Syarah Shahih Bukhari dengan sanad yang shahih bahwa Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam menjelaskan, Dajjal itu berkata, “Itu masjid Muhammad, itu masjid Nabawi yang harus kita kuasai”. Dari kejauhan Dajjal sudah menunjuknya, kubah hijau masjidnya Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam telah ditunjuk oleh Dajjal dan berkata, “Itu masjid Muhammad, itu masjid Muhammad, kita harus sampai kesana”. Lantas Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam bersabda sebagaimana riwayat Shahih Bukhari di saat itu Madinah mempunyai 7 pintu, dan disetiap pintunya dijaga oleh 2 malaikat sehingga Dajjal tidak bisa masuk ke dalamnya.
Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam bersabda, “Al-Masih Ad-Dajjal tidak akan memasuki Madinah yang pada saat itu memiliki 7 gerbang (pintu) yang disetiap gerbangnya akan dijaga oleh 2 malaikat (Shahih Bukhari).
Jika kita melihat peta Madinah Al-Munawwarah saat ini akan terlihat 7 jalan utama yang memasuki kota Madinah Al-Munawwarah. Ketujuh jalan tersebut adalah berasal dari Jeddah, Makkah, Rabigh, Bandara, Tabuk, dan 2 lagi dari wilayah sekitarnya. Lalu siapa yang memberi pengetahuan kepada Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam mengenai kota Madinah Al-Munawwarah yang modern seperti sekarang ini sampai ada 7 pintu jalan utama?. Inilah salah satu bukti kebenaran Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam.
Gambar 1. Tujuh Pintu Masuk Kota Madinah (Google Maps)
Gambar 2. Tujuh Pintu Masuk Kota Madinah (Google Earth)
Dalam sebuah hadits, dari Abdullah bin Syafiqq, dari Muhjin bin Adra, Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam bersabda di hadapan orang banyak, “Hari Pembebasan, Hari Pembebasan, Hari Pembebasan!” dan mengulanginya 3 kali.

Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam ditanya oleh salah seorang sahabat, “Apakah Hari Pembebasan itu?” Dijawab, “Dajjal (penipu pada akhir zaman), Dajjal akan datang, memanjat dan menetap di atas Jabal Habsyi, melihat ke arah Madinah dan bertanya kepada para pengikutnya; ‘Adakah Anda melihat Istana Putih itu?

Itulah Masjid Muhammad’.” Kemudian Dajjal akan coba mendekati Kota Madinah dan mencari jalan di setiap sudut. Tetapi malaikat menghalanginya dengan pedang. Dan Dajjal akan sampai ke tanah lapang al-Jurf dan membuat kemah. Madinah akan bergetar sebanyak 3 kali dan akan ada orang munafik lelaki atau wanita keluar untuk menyertai Dajjal. Ini adalah hari pembersihan.” (Syaikh Musthafa al-‘Adawi dalam Sahih al-Musnad, Hadis al-Fitan).
Kemudian dalam sebuah hadits lain disebutkan bahwasanya Abu Said meriwayatkan bahwa Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam bersabda, “Dajjal akan tiba dan dia terlarang untuk memasuki Madinah. Dia akan tinggal di sebuah daerah bergaram di sekitar Madinah”. (Shahih Bukhari).
Dalam riwayat lainnya juga disebutkan, dari Anas bin Malik bahwa Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam bersabda, “Dajjal akan datang di suatu tempat dekat Madinah dan kemudian bergoncanglah Madinah tiga kali sehingga semua orang kafir dan munafik keluar dari Madinah dan menuju kepadanya (Shahih Bukhari).
Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam bersabda, “Dajjal akan mendaki gunung dan melihat ke arah kota Madinah. Kemudian dia akan megatakan kepada para pengikutnya, ‘Kalian melihat Istana Putih itu? Itu adalah masjidnya Ahmad'” (Hakim dalam Mustadrak Shahih sesuai syarat dari Imam Muslim).
Kini, di pinggiran kota Madinah tepatnya di Jabal Habsyi sekitar 7km dari Madinah Al-Munawarah telah berdiri sebuah bangunan megah yang didirikan oleh Raja Arab Saudi. Bangunan tersebut dikenal dengan nama resmi “Royal Palace” atau “Kingdom Palace” atau Istana Kerajaan, tetapi penduduk setempat menyebutnya sebagai “Dajjal Palace” atau Istana Dajjal. Banyak ulama mengatakan bahwa bangunan tersebut dibangun di atas Gunung Bergaram sebagaimana telah diceritakan oleh Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam.
Gambar 3. Kingdom Palace di Jabal Habsyi (tampak samping), terletak 7 km dari kota Madinah Al-Munawwarah
Gambar 4. Kingdom Palace di Jabal Habsyi (tampak atas), terletak 7 km dari kota Madinah Al-Munawwarah
Gambar 5. Kingdom Palace di Jabal Habsyi (tampak atas), terletak 7 km dari kota Madinah Al-Munawwarah, Arab Saudi
Dan jika kita lihat dari Istana Kerajaan (Kingdom Palace) yang berada di atas Jabal Habsyi maka Masjid Nabawi berada lurus di timur

Istana tersebut. Kita pun telah melihat sekarang ini Masjid Nabawi tampak sangat besar dan megah juga indah bagaikan Istana Putih seperti yang diceritakan oleh Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam. Padahal pada saat Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam mengucapkan hadits di atas saat itu

Masjid Nabawi masih sangat sederhana yang hanya terbuat dari lumpur basah berwarna kecoklatan dan juga batu bata, tidak seperti sekarang yang sangat megah bak Istana. Darimana Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam mendapatkan pengetahuan tersebut? Inilah salah satu tanda bukti kebenaran Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam yang telah nyata.
Gambar 6. Kingdom Palace di atas Jabal Habsyi (tanda panah merah) dan White Palace/ Istana Putih (Masjid Nabawi) di Madinah Al-Munawwarah
Gambar 7. Tampak Masjid Nabawi (Lingkaran Merah) yang Dilihat dari Kingdom Palace di Jabal Habsyi
Sebagai gambaran dan info lebih lanjut terkait Dajjal, Jabal Habsyi, dan Masjid Nabawi Madinah, silahkan lihat beberapa video yang telah disediakan dibawah:
VIDEO 1. ISTANA DAJJAL, JABAL HABSYI DAN MASJID NABAWI MADINAH
VIDEO 2. FITNAH DAJJAL DAN KOTA MADINAH AL-MUNAWWARAH
VIDEO 3. PENAMPAKAN ISTANA KERAJAAN/ ISTANA DAJJAL DI JABAL HABSYI (AMATIR)
VIDEO 4. PENAMPAKAN ISTANA KERAJAAN/ ISTANA DAJJAL DI JABAL HABSYI (GOOGLE EARTH)
Sudah siapkah kita menghadapi kedatangan Dajjal? Wallohu a’lam bisshowab…